Website vs Blog ?

Sebelumnya saya mau menegaskan bahwa blog merupakan perkembangan dari website, jadi blog pun merupakan website. Namun apa yang menjadi ide dasar bagaimana suatu website sudah dikatakan sebagai blog, dan apa yang membedakan dengan sekedar website profil saja? Hal ini membuat saya penasaran sejak website klien yang saya coba daftarkan ke BlogCatalog, akhirnya ditolak dengan alasan bahwa website tersebut bukan blog.

Dewasa ini, semua website maupun blog yang popular sudah mengarah ke pola CMS (Content Management System), sehingga memudahkan kita untuk menginputkan konten tertulis, gambar, audio maupun video hanya dalam hitungan menit saja. Selain itu dengan adanya pola CMS tersebut, pastinya terdapat halaman administrator/back-end yang mengakomodasi semua konten dan tampilan. Hal ini dapat anda temukan seperti pada WordPress dan Joomla.

Blog dipastikan sebagai website dinamis dengan pola CMS, namun dengan kelebihan antara lain :

1. Artikel yang terus diupdate berkala, diurutkan secara kronologis dengan artikel terbaru harus ditampilkan(diposting) di halaman depan (menu home).

Penggunaan istilah blog diperkenalkan pertama kali oleh Jom Barger di tahun 1997, yang berasal dari kata Web dan Log. Ide dasarnya adalah log yang artinya catatan kronologis/ berkala sesuai urutan waktu. Bagi Jom Barger, blog disebutkan bagi sebuah website pribadi seseorang yang selalu menambahkan konten terbaru nya secara berkala.

Jadi kronologis di sini maksudnya artikel terbaru ditempatkan paling atas, kemudian diikuti di bawahnya adalah artikel yang lebih lama dan seterusnya berdasarkan waktu. Kadang ada yang menyebutkan bahwa blog diibaratkan sebagai Online diary atau buku diari yang online.

2. Konten berisi FRESH CONTENT, yaitu IDE, INSPIRASI si penulis yang diungkapkan melalui tulisan.

Sudut pandang blog = sudut pandang penulis. Sajian tulisan yang terdapat pada blog adalah sudut pandang hasil pemikiran maupun eksposisi yang dipaparkan oleh penulis yang mengulas suatu kejadian/ peristiwa, berita yang hot/popular, pengalaman pribadi/ orang lain, ilmu/ pengetahuan yang dipunyainya ataupun yang dicermati/dianalisa dari website dan blog lainnya. Jadi dengan kata lain, gaya bahasa penulisan yang diungkapkan pasti berbeda antara satu blog dengan blog lainnya, sekalipun mengulas berita yang sama pula. Hal inilah yang menjadi peraturan plagiarisme.

Rata-rata pembuat blog/blogger menulis 3-5 artikel baru setiap minggunya. Hal ini perlu ada keteraturan agar Google dan search engine lainnya pun terbiasa melakukan penelusuran setiap hari dan setiap minggunya.

3. Fasilitas komunikasi dua arah 

Blog melakukan percakapan melalui tulisan dan tidak hanya sekedar “memberikan informasi” pada pengunjung. Si penulis/ blogger menyertakan link-link yang direkomendasikan atau yang dianggap menarik untuk dikunjungi. Dalam blog, si penulis menyalurkan inspirasinya, dan para pengunjunglah yang memberikan tanggapan atas inspirasinya tersebut melalui sebuah form komentar. Tanggapan tersebut bisa berupa opini saran, pujian, sanggahan bahkan ada yang turut menceritakan permasalahan yang serupa dialami, serta ada juga yang memberikan solusi-solusinya. Semua tanggapan ini adalah ide berbagai macam karakter dan sudut pandang yang berbeda-beda dari para pengunjung, dan semuanya bercampur di 1 wadah blog. Alhasil, blog bisa dikatakan hidup karena ada upaya “menjalin komunitas dan hubungan yang baik”. Walaupun antara si penulis dan pengunjung belum pernah bertatap muka, ikatan komunikasi dan emosi sudah terjalin di antara mereka.

4. Fasilitas RSS (Really Simple Syndication)

RSS dapat dikatakan sebagai teknologi yang menampilkan sederhana konten konten terbaru dari suatu blog. Proses RSS tersebut berada dalam sebuah file berformat XML. Konten-konten tersebut memang tidak seluruhnya ditampilkan, namun terbatas ratusan karakter saja per-artikel. Teknologi tersebut telah menggeser fasilitas bookmarking.

SHARE